Energi Ikhlas, Agar Hidup Bahagia Dunia Akhirat (part 1)

Energi Ikhlas Cover
Cover buku Energi Ikhlas; Agar Hidup Bahagia Dunia Akhirat

Energi Ikhlas, Agar Hidup Bahagia Dunia-Akhirat, adalah buku karangan Yusuf Al-Qaradhawi, dengan judul asli Al Niyyah wa Al Ikhlas, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Mizania, berisi 267 halaman. Ini merupakan kategori buku penuntun penguat iman, yang berisi tentang bahasan niat dalam aplikasi hidup, urgensi niat, meluruskannya, untuk kebahagiaan hidup dunia akhirat, seperti judul bukunya. Bukunya juga berisi rangkuman petikan-petikan ilmu dari berbagai ulama, dan beberapa ayat penting tentang niat dan hidup.

Seperti yang saya katakan di postingan lalu, isi buku ini amat menohok, juga memberikan banyak manfaat sebagai pengingat tentang tujuan hidup. Yang kemudian saya sampaikan disini, hanya ‘sedikit’ kutipan-kutipan favorit saya yang terangkum.

Buku ini memuat 9 bab bahasan. Karena amat banyak, luas dan isinya sangat terperinci, maka akan saya rangkum menjadi 2 post. Bab pertama: Ikhlas, dan Kedudukannya Bagi Para Penempuh Jalan Kebaikan. Dengan penerangan iman dan cahaya Al Quran, telah tersingkap bagi para ahli para manajemen hati, bahwa tidak ada jalan lain untuk sampai pada kebahagiaan, kecuali hanya dengan ilmu dan ibadah. Semua orang binasa, kecuali orang-orang yang berilmu. Semua orang berilmu binasa, kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang-orang yang mengamalkan ilmunya-pun binasa, kecuali mereka yang ikhlas. Sedangkan orang yang ikhlas dalam bahaya besar. Amal tanpa niat adalah kepayahan. Dan niat tanpa ikhlas adalah riya’. Riya’ itu setara dengan kemunafikan dan sama dengan durhaka. Ikhlas tanpa kejujuran dan pelaksanaan, adalah sia-sia belaka. Allah SWT berfirman tentang setiap amal yang dilakukan untuk selain Allah sebagai suatu yang terkontaminasi dan tidak dikenal, ‘dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan’ (Qs. Al Furqan : 23).

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa, Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan memandang kepada bentuk tubuh dan rupamu, tetapi Dia memandang kepada hatimu’. Lalu beliau memberi isyarat dengan jari-jari tangannya kearah hatinya seraya berkata, ‘Takwa itu ada disini’. Beliau memberi isyarat ke dadanya 3 kali.

Bab kedua: Pentingnya Niat Dalam Mewujudkan Keikhlasan. Niat adalah terdorongnya hati seseorang ke arah yang dipandang cocok dengan keinginan berupa hal-hal yang mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, baik dalam waktu sekarang ataupun yang akan datang. Niat itu murni amalan hati, bukan lisan. Balasan suatu amal akan sesuai dengan niatnya. Imam Ahmad meriwayatkan dari seoarang laki-laki Anshar, ‘Kuda itu ada 3, petama, kuda yang digunakan oleh seorang laki-laki dijalan Allah, harganya berpahala, menunggangnya berpahala, dan meminjamkannya berpahala. Kedua, kuda yang digunakan oleh seorang laki-laki untuk bertaruh dan berjudi, harganya dosa dan menunggangnya dosa. Ketiga, kuda untuk mengenyangkan perut, mudah-mudahan ia bisa menghindarkan dari kemiskinan, InsyaaAllah. Niat yang ikhlas adalah prinsip diterimanya amal. ‘Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka, ia akan memasukinya dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik (Qs. Al Isra : 18-19).

Namun niat (yang baik) tidak akan berpengaruh pada hal haram. Karena itu, barang siapa memakan harta riba, atau merampas hak orang lain untuk membangun masjid, atau menampung anak yatim, maka seluruh niat yang baik ini tidak akan berpengaruh untuknya. ‘Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak akan menerima, kecuali yang baik’.

Bab ketiga: Keutamaan Ikhlas dan Bahaya Riya’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa mencinta karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sempurnalah imannya’. Itu semua merupakan bagian dari ikhlas. Ikhlas dalam menyerahkan seluruh hidup dan matinya, ibadah dan aktifitasnya. Riya’ akan merusak keikhlasan. Ia adalah maksiat hati yang berbahaya bagi jiwa dan amal.

Abu Hurairah menuturkan, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang mula-mula diadili pada hari kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid. Orang itu dibawa menghadap Allah, lalu diberitahukan kepadanya nikmat-nikmat Allah dan ia mengakuinya. Kemudian Allah berfirman, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’. Orang itu menjawab, ‘Saya berperang karena engkau sampai mati syahid’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Engkau sebenarnya berperang agar dikatakan pemberani dan itu telah engkau terima’. Kemudian diperintahkan supaya orang itu diseret lalu dilemparkan ke neraka. 

Setelah itu diadili pula orang yang belajar dan mengajarkan ilmu, serta membaca Al Quran. Orang itu dibawa menghadap, lalu diberitahukan kepadanya nikmat-nikmat yang pernah diberikan, iapun mengakuinya. Kemudian Allah berfirman, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’. Orang itu menjawab, ‘Saya belajar ilmu dan mengajarkannya, dan sayapun membaca Al Quran karena Engkau’. Allah berfirman, ‘Engkau berdusta, tetapi maksud engkau belajar adalah supaya dikatakan sebagai orang alim, dan engkau membaca Al Quran supaya dikatakan sebagai qari. Dan itu telah engkau terima’. Kemudian diperintahkan supaya orang itu diseret, lalu dilemparkan ke dalam neraka. 

Setelah itu diadili pula orang yang dilapangkan Allah dan diberi-Nya harta kekayaan berlimpah. Orang itu dibawa menghadap, lalu diberitahukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya, dan iapun mengakuinya. Kemudian Allah bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’. Orang itu menjawab, ‘saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka supaya dinafkahkan harta disana, kecuali saya melakukannya karena Engkau’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Engkau melakukan itu agar dikatakan seorang dermawan, dan itu telah dikatakan orang’. Kemudian diperintahkan supaya orang itu dicekal. Ia-pun diseret lalu dilemparkan dalam neraka”. 

Begitulah bahaya riya yang digambarkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Hakikat Ikhlas Content
Preview Isi Buku, Bab ke-4; Hakikat Ikhlas

Bab keempat: Hakikat Ikhlas. Ikhlas adalah menjadikan Allah SWT satu-satunya tujuan dalam perbuatan taat. Menghendaki dengan perbuatan taat tersebut taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, bukan kepada yang lain, seperti mencari muka kepada makhluk, atau mengusahakan agar disanjung, atau senang dengan pujian manusia. Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba. Beramal karena manusia adalah syirik, sementara meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan ikhlas adalah jika Allah menghindarkan anda dari keduanya. Sesungguhnya ikhlas adalah membersihkan amal dari seluruh kontaminasi ini, sedikit atau banyak, sehingga niat taqarrub menjadi satu-satunya tujuan amal, dan tidak ada lagi motif lain didalamnya. Dengan demikian, obat ikhlas adalah menghentikan seluruh kepentingan hawa nafsu, memutuskan kerakusan kepada dunia, dan mengkhususkannya untuk kepentingan akhirat semata.

Adapun amal yang di dalamnya hanya ada riya’, akan memperoleh kemurkaan & siksa. Sedangkan amal yang dikerjakan secara ikhlas karena mencari ridha-Nya, akan memperoleh pahala.

Lalu bagaimana dengan amal yang terkontaminasi?. Beberapa ulama mempunyai pandangannya. Imam Al  Ghazali berpendapat tentang amal yang terkontaminasi ini, bahwa sekalipun ilmu tentang kebenarannya ada pada Allah semata, harus dilihat dahulu kadar kekuatan motifnya. Apabila motif agama dan motif nafsu sama kuat, total-menolak dan saling menjatuhkan, maka amal tersebut menjadi nihil, tidak berpahala dan tidak berdosa. Apabila riya’ mendominasi, maka amal tersebut tidak bermanfaat dan mendorong untuk mendapat hukuman. Apabila niat taqarrub lebih mendominasi dibanding dengan motif lain, maka amal itu akan memperoleh pahala menurut kadar yang lebih dari kekuatan motif agama tersebut. Ini didasarkan pada firman Allah SWT, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (Qs. Al Zalzalah:7-8).

Hal ini diakui oleh ijma’ ulama bahwa barang siapa haji sambil membawa barang dagangan, maka hajinya sah dan akan mendapat ganjaran, padahal hajinya itu telah dicampuri oleh salah satu dari keuntungan pribadi. Maka perkataan yang benar adalah ‘ketika haji adalah motivasi asalnya, sedangkan dagang itu ibarat pembantu atau pengiring belaka, maka perjalanan tersebut tidak akan terlepas dari pahala’. Adapun hadits-hadits yang menyatakan tentang gugurnya amal karena niatan lain, objek yang dikehendaki dalam hadits tersebut adalah orang yang tidak menginginkan dengan amal atau hijrah, kecuali untuk keuntungan duniawi. Keuntungan duniawi menjadi dominan.

Sementara Ibn Rajab berpendapat, bahwa amal untuk selain Allah itu ada beberapa macam; adakalanya amal tersebut benar-benar dilakukan karena riya’, yang tidak dikehendaki dengannya kecuali agar dilihat manusia untuk tujuan keduniaan, seperti keadaan orang munafik dalam shalat, maka amal yang demikian ini tidak diragukan lagi oleh seorang muslim-pun, bahwa pahalanya menjadi gugur dan pelakunya layak mendapat hukuman dari Allah (selayaknya orang munafik). Ada kalanya juga suatu amal dilakukan karena Allah, lalu dicampuri karena riya’, jika amal dicampuri oleh riya’ dari asalnya, keterangan yang shahih menunjukan bahwa amal yang demikian itu batal dan pahalanya gugur.

Al Hakim meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ada seorang laki-laki berkata, ‘Ya Rasulullah, saya berada disuatu posisi menghendaki keridhoan Allah, dan saya juga menghendaki bahwa orang-orang melihat medan peperangan saya. Rasulullah SAW tidak menjawab apa-apa sampai turunnya firman Allah SWT yang menyatakan, ‘Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh, dan janganlah ia mempersekutukan dengan seorangpun dalam beribadah dengan Tuhannya’ (Qs. Al Kahfi:110).

Namun, adapun jika seseorang mengerjakan suatu amal dengan ikhlas karena Allah, kemudian Allah menanamkan pujian yang baik baginya di hati orang-orang mukmin atas amalnya tersebut, lalu ia merasa senang dan bersuka-cita dengan karunia dan rahmat Allah tersebut, hal ini tidak merugikan. Hal itu termasuk pahala yang disegerakan Allah dalam kehidupan dunianya.

(Semua catatan diatas adalah rangkuman murni dari buku tersebut, saya hanya menambahkan beberapa kata sambung, dan sejenisnya, untuk memudahkan saya dalam mengartikan maksud isi buku tersebut)

Iklan
Diposkan pada Review

Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela

Review pertama di blog ini, mumpung lagi terharu setelah baru menamatkan bacaan buku ini, Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela. Buku asal Jepang yang ditulis oleh salah satu tokoh utama dalam buku tersebut, yakni Tetsuko Kuroyanagi atau Tetski atau Totto-chan (dewasa), bertotal 271 halaman isi, yang akhirnya diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, dan dicetak oleh PT Gramedia, __merupakan buku lama yang ditulis berdasarkan kisah nyata penulis, sempat menjadi best seller di Jepang, dan area Asia lainnya, termasuk Indonesia. Buku ini resmi diterbitkan pada tahun 1982, dan baru masuk ke Indonesia sekitar tahun 2000an.

Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela
Buku Totto-chan, Gadis Jilik di Jendela

Totto-chan adalah tokoh utama dalam buku ini, seorang anak kelas satu sekolah dasar yang tingkah polahnya cukup ‘tidak biasa’ bagi kebanyakan orang. Bukan hanya Totto-chan, sosok Mr.Kobayashi si ‘kepala sekolah’ juga merupakan tokoh utama yang juga diceritakan. Bahkan sipenulis memang sengaja mendedikasikan tulisannya ini untuk mengenang sosok kepala sekolah tersebut, beserta segala aktivitas anak-anak di sekolah Tomoe.

Isi buku ini.. Menceritakan tentang kisah-kisah berharga keseharian Totto-chan, kepala sekolah dan murid-murid sekolah Tomoe yang kebanyakan berkebutuhan khusus. Ceritanya jadi komplit dengan dipaparkannya sosok sang ibu & ayah Totto-chan, dalam menghadapi prilaku anaknya yang luar biasa.

Berawal dari perjalanan pencarian sekolah untuk Totto-chan, yang sempat dikeluarkan dari sekolah lamanya karena tingkah polahnya yang luar biasa, dan kemudian menemukan sekolah yang tepat, sekolah yang unik yang menarik perhatian dan membangkitkan semangat Tetto-chan, sekolah yang ruang-ruang belajarnya merupakan sebuah gerbong kereta api (usang) yang disulap menjadi sebuah kelas. Disinilah rentetan kisah full hikmah terjadi, tetang ilmu kependidikan,  ideologi, parenting, insting dan imajinasi anak-anak, tentang psikologi murid-murid Tomoe, tentang pola berfikir umum dimasyarakat, tentang sikap dengan hati.

Sisi menarik dari Totto-chan adalah tentang sikap polos, keceriaan, kehangatan dan keaktifan seorang anak kecil. Anak yang tidak suka dengan pola belajar formal di sekolah pada umumnya. Menarik membaca pengalamannya saat dia bermain dan masuk dalam lubang berisi kobangan kotoran atau melompat dalam gundukan semen yang masih basah, saat dia bercita-cita ingin menjadi seorang penjual karcis di dalam kereta karena begitu penasaran dengan kotak karcis yang banyak, saat telinganya hampir putus karena digigit Rocky anjingnya dan ia malah membelanya agar mama tidak membuang anjing itu, dan tentang kehangatan sikapnya ketika berteman dengan Yasuaki-chan yang mengidap polio, atau si Takahashi yang kerdil, atau kekagumannya pada anak-anak tuna wicara yang menurutnya sangat hebat karena bisa ‘berbicara dengan tangan’.

Sosok yang paling hebat di dalam buku ini adalah Mr. Kobayashi, si kepala sekolah Tomoe. Yang dideskripsikan dari cerita-cerita setiap halamannya. Cerita tentang sekolah alam yang ia dirikan pada tahun 1937, sekolah Tomoe, sekolah yang hanya berupa gerbong-gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai sebagai kelas pengajaran, dengan kurikulum khusus buatannya. Bagaimana dia menyambut Totto-chan pertama kali di sekolah, yang dengan sabar mendengarkan cerita anak kecil polos itu selama 4 jam. Seruannya kepada para orang tua murid agar anak-anak mereka menggunakan pakaian paling usang saat kesekolah, agar  anak-anak dan orang tua tidak pernah khawatir akan kotor. Mendidik anak-anak murid untuk makan sehat bersama disekolah, dengan menu wajib yang harus bersumber dari laut dan pegunungan (protein dan sayur-sayuran). Bagaimana ia dan para gurunya merancang hari olah raga sekolah dengan lomba-lomba khusus agar Takahashi yang kerdil bisa menang. Lalu menjadikan sayur dan bahan makanan sebagai hadiah perlombaan, yang membuat murid-muridnya memahami bahwa hal sederhana-pun bisa menjadi kebahagiaan untuk semua, dengan menugaskan hadiah bahan makanan tersebut agar bisa diolah dan dinikmati seluruh orang dirumah mereka masing-masing, saat makan malam bersama. Tentang bagaimana ia memanggil petani biasa yang tak bersertifikat mengajar, untuk menjadi guru pelajaran pertanian di sekolah Tomoe. Atau perjalanannya membawa anak-anak kemping dan menjenguk tentara yang terluka setelah perang. Dan masih banyak sikap Mr.Kobayashi lainnya yang bijaksana, hangat, tegas dan ramah, yang membuat semua murid-muridnya menyayanginya.

Tentang ibu dan ayah Totto-chan tidak diceritakan banyak dalam buku ini, tapi dari deskripsi yang tidak banyak itu, pembaca juga bisa mengambil banyak pelajaran tentang sikap bijak mereka dalam menghadapi anak aktif seperti Totto-chan. Tentang komunikasi yang tepat saat menghadapi masalah-masalah Totto-chan, tentang ideologi dan kasih sayang. 

Terakhir, buku ini ditutup dengan cerita sekolah Tomoe yang terbakar habis, karena bom saat perang tahun 1945 di Jepang. Penulis yakni si Totto-chan dewasa juga menceritakan kelanjutan hidup teman-temannya yang luar biasa yang dulu bersekolah di Tomoe.  Sebagian besar dari mereka bisa hidup normal dan sukses setelah dewasa, bahkan beberapa orang dari mereka menjadi tokoh penting dibidangnya. 

Penulis berusaha menyajikan tulisan dan menyampaikan pesannya bahwa sikap tepat yang diambil oleh orang-orang dewasa kepada anak-anak (yang bermasalah sekalipun), akan menentukan kejiwaan dan bagaimana sikap anak-anak tersebut selanjutnya. Sebagaimana yang dilakukan kepala sekolah (dan orang tua) mereka, yang berhasil membentuk kepercayaan diri murid-murid Tomoe, dan akhirnya bisa melanjutkan kehidupan mereka dengan baik. ‘Janganlah mencoba memaksakan anak-anak tumbuh sesuai bentuk kepribadian yang sudah digambarkan. Jangan patahkan ambisi mereka, karena cita-cita mereka lebih tinggi dari pada cita-cita orang dewasa’, -Mr.Kobayashi-