Kita Sebelum

Kita
At Last Exit Dubai 2018

Kita adalah diri kita sendiri, sebelum harus berubah menjadi anak, istri, ibu, kakak, adek, teman, dan lainnya dari mereka. Kita adalah tanggung jawab diri kita sendiri, sebelum ditanggung oleh mereka. Kita punya cita-cita seperti orang kebanyakan, yang mungkin berbeda dari kebanyakan mereka. Kita punya rencana yang ingin kita penuhi, walau kita tau kadang tidak mungkin. Kita punya angan-angan yang menyenangkan, walau bagi mereka tidak. Kita punya emosi dan egoisme yang mungkin menyakiti diri kita sendiri akhirnya. Kita punya pilihan sendiri dengan segala tanggung jawabnya. Kita memiliki kecenderungan pula, yang membawa pemikiran kita jadi berbeda. Kita juga punya cerita dongeng yang tumbuh dalam diri kita, yang ternyata mengarahkan kepribadian kita untuk menjadi begitu.

Diposkan pada Andafcian's Story

Si Tukang Fitnah Yang Gak Ngerti Aturan Main

Beberapa hari lalu, ada email asing yang masuk ke inbox gmail saya. Dan itu membuat cukup kaget setelah membaca isinya. Si pengirim mengkonfirmasi sebuah gambar yang berasal dari blog ini, namun gambar tersebut di edit, dan disalah gunakan oleh oknum. Saya langsung cek ke FB yang ada di gambar dalam lampiran email tersebut. Namun saya tidak menemukannya. Entah karena sudah dihapus, atau karena gambar editan tersebut diposting ke closed group. Entahlah.

Postingan tersebut langsung saya hidden kan, dan blog juga saya privacy beberapa hari (peng privasian sebenarnya juga karena re-theme andafcian yang belum selesai). 

Hasil editan tidak bertanggung jawab
Lampiran dalam email tersebut, mengkonfirmasi kalau foto dalam blog saya sudah di edit seperti ini.

Jadi, foto editan ini berasal dari postingan saya tentang rangkuman ucapan milad untuk Sun, suami saya, dari kerabat keluarga. Waktu itu kami sedang LDR, dan saya masih muda lah..dengan semangatnya mengumpulkan foto-foto ucapan untuk dikirim ke Sun. Berdasarkan email dari orang asing tersebut, foto tersebut di unggah oleh Ronald Saimima, dan di edit, lalu dipost ke closed group di facebook bernama ‘relawan ahok-djarot garis keras’. Isi pesan dalam foto yang aslinya bertuliskan ‘Barokallah Sun, Slamat ulang tahun ya Nak’, diganti dengan ‘insyaAllah kami tetap mendukung ahok djarot’. 

Kesal tidak sih ! . Sayapun langsung mengkonfirmasi via fb messenger bapak ronald saimima tersebut, tentang benar tidaknya, namun tidak dibaca, entah karena kami memang tidak berteman di facebook. Lalu saya coba mengkonfirm lagi dengan mengkomen di salah satu postingannya. Juga tidak di respon. Terakhir saya mencari akun instagram bapak tersebut, dan lalu mengirim pesan yang sama pula, masih belum direspon. 

Ada tidak sih sarana pengaduan penyalah-gunaan masalah macam ini? Ah ! saya hopeless. Selain karena saya dari kalangan rakyat jelata, juga karena melihat banyaknya penyimpangan kampanye politik yang jelas-jelas nyata saja, tapi gak tuntas untuk di usut. 

Pesan saya buat bapak ibu yang berprofesi seperti orang yang ber-akun ronald saimima tersebut, oknum yang mengambil profesi sebagai tukang fitnah, segeralah ingat Tuhan kalian. Atau jika kalian gak pernah paham cara beragama, karena kalian manusia maka carilah pekerjaan lain yang lebih manusiawi. Kalau kalian memang jurkam politik, gunakanlah cara main yang etis, yang gak akan mencoreng nama group yang kalian bela. Perbuatan kalian itu gak keren sama sekali, cuma jadi oknum. 

Semoga hidayah menghampiri oknum-oknum fitnah yang gak ngerti aturan main. Aamin.

Diposkan pada Andafcian's Story, Deskripsi Banyak Hal

Hadirnya Dia, yang Kedua

sepatu-kedua

Hari ini dia pulang kerumah, setelah sebulan lebih kepergiannya mencari nafkah di tempat yang amat jauh. Hubungan kami memang mungkin tidak seromantis seperti masa-masa awal menikah lalu, tapi yang dia sampaikan saat ini sungguh menyadarkanku tentang kondisi pernikahan kami yang sebenarnya saat ini. “…aku sudah menikah lagi”. Dari sekian penjelasannya yang tenang, aku hanya mengingat kata-kata itu, juga anak-anakku.

***

Kata-kata tersebut hanya sebuah ilustrasi, salah satu kisah seorang istri. Yang harus menghadapi sebuah realita -poligami-, dan kemudian dihadapkan pertanyaan akhir, ‘haruskah bertahan, atau bercerai’. Ada pula rentetan pertanyaan yang ingin aku tanyakan, sekedar ingin tau tentang suasana rumah tangga di 15 tahun usia pernikahan mereka. ‘Kenapa?.. Salah siapa?.. Harus bagaimana?..’, dan lainnya.

Berpoligami? Tentu diperbolahkan. Lakukanlah dengan adil, dengan niat yang benar. Apa yang paling penting, yang mendasari mereka mengambil jalan ini, selain untuk mendapatkan sebuah ‘ridha’ Tuhannya, Allah, Yang Maha Bijaksana, tentu tidak ada yang lebih penting selain hal ini.

***

Dan jika niatnya memang sudah benar, untuk itu, sebelum kau memutuskannya, maka jadikanlah rumah tangga kita sebagai jembatan kesyurgaNya terlebih dahulu. Didiklah dan imam-i aku, menjadi sosok pribadi yang taat dan kuat terlebih dahulu. Untuk itu, jadilah pemimpin rumah tangga yang taat, kuat, tangguh terlebih dahulu, agar aku yakin, bahwa kau bisa kuat pula menjalankan amanah atasku dan wanita kedua itu. Agar aku yakin, kau bisa adil.

Jika niat dan caramu sudah dijalan Nya, maka sebelum itu, didiklah anak-anakmu dengan keimanan yang tangguh, agar mereka tidak tersalah menafsirkan sikapmu. Tanamkanlah kepahaman kepada mereka, tentang syariat Nya yang amat indah, agar dengan jalan baru itu, kami semua masih bisa hidup dengan bahagia karena pemahaman yang kuat.

Untuk engkau yang mengambil jalan itu, wahai imam rumah tangga, jujurlah pada niatmu, dan tunjukan sikap taatmu. Jika yang kau cari adalah ridho dan syurga Nya, maka yakinkanlah dirimu dahulu akan kebesaran imanmu, kekuatanmu, usahamu, akan bisa menjalaninya dengan adil, seperti yang syariat ajarkan.

Aku kuatkan diri, untuk mengatakan ini, diluar dari rasa sedihku, menyikapi perubahan perasaan dan sikapmu. Diluar dari rasa sakitku mengingat kenangan-kenangan romantis dan bahagia kita dimasa awal pernikahan dulu. Jadilah orang yang mengambil jalan ini, dengan keimanan.

***

Catatan ini mungkin memang tidak melihat dari semua sisinya. Ini hanya membagi salah satu suara hati istri yang menjadi objek pertama. Bagaimanapun, kami yakin kalau Dia- selalu menciptakan aturan-aturan hidup yang sangat proporsional, seimbang, terbaik, dan detail. Wallahua’lam bishowab.