RSS Feed

Sore Di Desa

Suatu Sore

Suatu Sore

Sedikit Malu

Ada perasaan malu, saat melihat foto-foto jaman dulu, masa SMA dan kuliah. Perasaan malu. Bukan tentang gambar saya dan teman-teman yang dulu memang rembes, dekil, sedikit gak mengurus diri, bukan tentang itu. Tapi malu karena melihat bagaimana kami dan mereka yang dulu dan sekarang.

Apa yang membuat kami dahulu mau melewati banjir yang tingginya sepangkal paha, ditambah harus bawa pakaian ganti setelahnya, hanya untuk menghadiri rapat pengurus. Apa yang membuat mereka mau berbasah-basah kehujanan, hanya untuk melanjutkan agenda rapat kerja organisasi, yang sepanjang acara rapat, mereka harus menahan basah-basah dipakaiannya. Apa yang membuat mereka merelakan waktu liburannya, hanya untuk melaksanakan agenda-agenda LDF.

Senja di Pulau Kumala

Senja di Pulau Kumala, 15 Juli 2008. Usai Acara Raker Pengurus LDF

Perasaan malu ini membuat saya memberhentikan slide foto dikomputer. Lalu mulai kangen dengan mereka.

(Ke)Banyak(an) Ide

Sun at Tariif Road Abudhabi

Sun at Tariif Road Abudhabi

Tentang perubahan status, tentang hobi dan mainan baru, tentang cerita kota kecil ini, isi buku yang saya suka, tentang sekolah, cerita bertetangga dan bertahan dinegeri asing, tentang si kesayangan, pekerjaan yang saya rindukan, tentang semua beban saat ini, inspirasi membuat cerita pendek dan bersambung, kumpulan gambar-gambar menarik, tentang kehidupan Sun, Alif, keinginan merenovasi blog, membuat referensi hal-hal menarik dikota ini, tentang tarbiyah dzatiyah, sekolah kami, tentang holiday dan perjalanan-perjalanan kami, semua pengalaman yang berkesan, tentang keluarga, cerita orang-orang hebat yang saya temui, aaah.. banyak hal yang sebenarnya ingin tertulis.

Terkadang menulis bukan sekedar curahan hati kosong, tapi bahan agar saya bisa berfikir ulang tentang yang lalu, dan sekarang, untuk pencerahan esok.

Sepuluh Bulan Kemudian

Banyak bulan berlalu, kami sibuk dengan hal-hal baru:) Status dan pekerjaan baru. Keluarga kami telah lengkap, Alhamdulillah, sejak lahirnya Alif Hamasy Alfath. Hidupku beberapa bagiannya sedikit demi sedikit ada yang berubah. Rasanya macam-macam. Dari syok, sedih, senang, bahagia, nangis, ketawa-ketawa, marah, kesal, nano-nano, warna-warni. Belajar menyesuaikan dan menjalani dengan sebenar mungkin semuanya. Ini membahagiakan. Walau beberapa kali kangen dengan masa-masa lalu.

Sudah 10 bulan sejak kelahiran Alif. Dan aku sudah melewati bagaimana rasanya menangis -setiap hari- karena kebingungan di awal-awal bulan baby Alif :,) . No one knows how its like, except us!. Alif, aku dan Sun punya cerita kami masing-masing.

Beberapa hal membuatku lebih baik, hidup lebih teratur, dengan lahirnya si baby onyon ini. Berat? Iya memang. Bingung? Sometimes. Stres? Ya. Bahagia? Alhamdulillah, sangat. Mungkin sepuluh bulan ini belum ada apa-apanya, dibanding nanti. Tapi saya selalu yakin, bahwa Allah tidak akan menguji kami melebihi batas kemampuan kami, sesuai janji-Nya. Aku bahagia. Semoga kami selalu berada dijalan yang benar dan lurus, itu yang terpenting dari segala ikhtiar kami untuk menjadi orang tua yang baik, pasangan yang mawaddah warahmah.

Dan postingan ini ditutup oleh senyum bahagia Alif Hamasy 10 bulan kemudian. Kuharap kelak dia akan bersyukur di akhirat kelak, memiliki orang tau seperti kami🙂

Alif Hamasy Alfath

Alif Hamasy Alfath

Kelahiran Bayi Mungil Kami

Kado dari Sayang, Rangkaian Bunga Rapelan Sejak Awal Menikah :)

Kado dari Sayang, Rangkaian Bunga Rapelan Sejak Awal Menikah🙂

-“Is it safe for me to go home now?”. Dengan bahasa inggris seadanya, saya tanyakan itu ke perawat dirumah sakit. “Yes, of course. You can eat well, and take a bath with warm water, so you can rilex..”. Dalam hati sih memang saya ingin sekali pulang kerumah, lebih nyaman, tapi rasanya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya, untuk berdiri saja sulit.-

Wednesday, April 8th 2015, sekitar jam 1an malam, flek darah mulai keluar. Terasa sakit juga belum, hanya nyeri sedikit sekali dan itupun sesekali saja. Menunggu.. hingga sekitar jam 3 atau 4an, darah yang keluar lebih banyak dari sebelumnya, suamipun bangun, dan jam 5 subuh akhirnya kami memberitahu Mami dan Emak.

Jam 6 pagi, saya masih bingung, entah harus segera ke rumah sakit, atau nanti saja. Ini karena mendengar pengalaman beberapa teman yang melahirkan disini, walau sudah pembukaan 4 pun kalau prediksi melahirkan masih jauh, maka si ibu disuruh pulang. (Dan benar saja, sayapun begitu nanti)

Kaca si Pathy Sebelum Dicuci

Kaca si Pathy Sebelum Dicuci

Jam 10 pagi, Kami memutuskan untuk cek ke RS, Gharbia Hospital, setidaknya untuk mengetahui kondisi baby didalam perut, sudah pembukaan berapa, dan harus bagaimana. Karena belum begitu sakit, sebelum ke RS pun kami masih sempat mampir ke pom bensin, sekalian cuci mobil yang penuh kotoran debu pasir. Sambil menunggu, sayapun sedikit berjalan-jalan ringan. Dan saat ini kontraksi mulai datang sesekali, namun masih tertahankan.

Jam 11 siang, Sampai di RS, midwife dan dokter spesialisnya melakukan pengecekan. And the contraction began strong, ketika si dokter memasukan jarinya ke dalam jalan lahir si baby kemudian menekannya kedalam >_<‘  untuk mengecek berapa banyak pembukaan. “Its only 1 cm, and you have to reach 10 (entah 9 atau 10), to deliver the baby”. Yang maksudnya, ini masih pembukaan 1. Saat itu, kontraksinya makin terasa, perlahan sakit..sakit..dan sakit. Dokter memberi waktu kami sejam untuk memicu pembukaan dengan berjalan kaki di lorong rumah sakit. Jika pembukaannya masih sedikit, maka sayapun direkomendasikan untuk pulang.

Jam 12 an siang, sakitnya sudah mulai menuju klimaks. Perawat memasangkan alat pendeteksi kontraksi yang saya kenakan diperut selama 1 jam. Setelah itu si dokter kembali datang melihat hasilnya dan melakukan pengecekan pembukaan dengan cara yang sama >_<, “Look, it’s only 2 cm. So you can go home now, and you can take some food, prepare your energy”. Benar saja, dokter menyuruhkan kami untuk kembali kerumah. “Is it safe for me to go home now?”, saya tanyakan itu ke perawat. Sakitnya sudah begini, yang juga saya fikirkan, bagaimana jika sudah di rumah lalu si baby tiba-tiba keluar. “Yes, of course. You can eat well, and take a bath with warm water, so you can rilex..”, jawabnya. Yes, i want to go home also, but i can’t. Selain memikirkan itu, sanking sakitnya, berdiri saja susah atau hanya untuk pindah dari tempat tidur RS ke kursi roda. “Ayo kita pulang aja dulu, sayang makan dirumah, isi tenaga, perawat dokternya gak bisa apa-apain kita juga”. Ajak suami. Tentu saja dia katakan itu, mendengar si dokter bilang kalau ini hanya awal kontraksi, dan prediksi melahirkan paling cepat 1-2 hari lagi.

Jam 1 siang, Memikirkan menunggu melahirkan 1-2 hari lagi? Aku ingin menyerah, sakitnya kontraksi ini bukan main. Ingin maju, tapi katanya pembukaannya masih 2, ingin mundur tapi bagaimana. Setengah sadar rasanya, bayang-bayang sakaratul maut terselip, sambil melihat sekeliling ruangan, apa ada sosok malaikat, dan kalau memang ada, saya berharap itu malaikat yang baik. Dari dzikir, nangis, minta tolong, semua.. MasyaAllah, menahan rasa sakitnya. Suamipun bingung harus apa, hanya membelai dan mendampingi sebisanya. ‘Aku gak tahan ini sayang.. gimana.. panggilin perawatnya..’. Berulang-ulang saya keluhkan itu. Siperawat pertama masih keukeh nyuruh pulang, ‘I can not Sister.. please help me, give me some pain killer’. Hingga akhirnya perawat kedua masuk, dan akhirnya memutuskan untuk melakukan hospitalization untukku.

Jam 2 siang, Sambil kedinginan, kesakitan, setengah sadar karena dari semalamanpun saya belum tidur, Sun memandikanku dengan air hangat di kamar mandi. Inipun rekomendasi midwifenya untuk memicu keluarnya baby. Ibuku dan ibu mertua akhirnya tiba di Rumah Sakit. Ikut membelai, menyiramkan air zam-zam di kepalaku, yang katanya orang tua zaman dulu ini membantu mempercepat kelahiran, entahlah, aku sudah setengah sadar, yang kuingat kepalaku basah.

Jam 3 siang, dasyatnya sakitnya makin tak tertahankan. Seperti.. sudahlah.. ah.. entahlah bagaimana mendeskripsikannya. Sayapun meminta maaf ke Mami dan Emak, sambil terus memegangi tangan suami, seolah-oleh sudah ingin pamitan. Sun terus menyemangatiku (dan mendapat balasan satu atau beberapa gigitanku ditangannya, yang akupun baru sadari pasca melahirkan, bekasnya membiru :,)

Detik-detik keluarnya si Baby mungil kami.. Air ketuban sudah pecah, itu saya rasakan karena semua rasanya basah. ‘Sister.. the baby will come out’, dengan suara pasrah saya sampaikan itu ke perawatnya. Namun karena si perawat masih memprediksi kelahirannya sekitar 1-2 hari, pesan ini diabaikan. Selimutku dibuka, pain killer disuntikan padaku. Disaat bersamaan si perawat melihat air ketuban sudah pecah, dan pembukaan sudah full, ya, bayinya akan segera lahir. Suasana agak ricuh, karena segala atribut belum siap. Mereka pun sempat menyuruh menahan, untuk tidak di ejan dulu. Dokterpun dipanggil. Si baby dalam perut sudah mulai menendang dengan refleknya ingin keluar. Dan Alhamdulillah.. Mendengar tangisnya yang kencang, yang pertama kali saya liat adalah suami, matanya berkaca-kaca ‘sikecil sudah keluar yang..’, suasananya sangat drama sekali. Dari kejauhan saya melihatnya, sambil terkantuk-kantuk karena efek pain killer juga tenaga yang sudah hampir habis. Hingga akhirnya si baby diletakan di atas tubuhku, MasyaAllah.. Wajah Ayahnya :,) Welcome our Baby Sholeh :,) Segala sakit terbayar dengan kesyukuran, Alhamdulillah.

New Born of Alif Hamasy Alfath

New Born of Alif Hamasy Alfath

(Wednesday, April 8th 2015, 15:27 at Gharbia Hospital, Madinat Zayed, Abu Dhabi UAE)

Beberapa Persiapan Menjelang Kelahiran si Baby

The Baby in Me

Baby in Me, We Love You🙂 – 2015

‘First time is always be the little hardest’. Kata orang-orang sih begitu, dan sepertinya memang begitu. Tapi tentunya pasti masih excited, karena disana kamu bisa menemui hal baru.

Kelahiran si kecil, yang saya rasa, bukan hanya sekedar gairah tentang -akan menemui hal baru- sebenarnya, tapi jauh dari itu, karena ia adalah amanah dariNya. Ia nantinya adalah kehidupan yang harus dipertanggung-jawabkan, maka saya yakin pada awalnya akan ada beberapa kesulitan, tentang bagaimana menyikapi hal-hal baru dalam hidupmu. Duh berat banget yaa🙂 Tapi inilah fitrah, rangkaian ini adalah proses kehidupan yang diberikanNya, maka sayapun terus mencoba mengoptimiskan diri kalau kelak akan bisa melaluinya, dengan penuh syukur.

Alhamdulillah, waiting for the next couple of weeks, InsyaAllah, the day will come🙂 . Hampir sembilan bulanan ini memulai dan sedikit belajar, malam ini saya ingin membagi beberapa catatan tentang apa saja yang bisa dilakukan calon ibu, bahkan ayah, menjelang penyambutan si kehidupan baru.

Pregnancy and Parenting Books

Pregnancy and Parenting Books

Kesatu, membaca buku, mencari referensi dimanapun sebanyaknya. Ini sangat penting, untuk bekal calon orang tua kelak. Tentang banyak hal, tentang kesiapan mental orang tua khususnya Ibu, fase-fase kehamilan, kebutuhan ibu hamil dan menyusui, tentang pola mendidik anak (ala Rasulullah), tentang perawatan bayi baru, menyusui dan asi, vaksin, dan sejenisnya. Dan.. setelah membacanya, kamu akan sadari, bahwa semua hal tersebut tidaklah ringan, tapi begitulah proses hidup ini.

Kedua, bertanya, khususnya tentang proses lahir dan perawatan si baby kelak. Selain yang diatas, bertanya pada yang sudah berpengalaman adalah cara yang efektif. Walau tidak semua sumber terkadang mampu memberikan jawaban yang tuntas. Tapi bertanyalah kepada mereka, kepada ibumu, kepada kakak, teman, tetangga, kerabat yang telah senior sebelumnya, tentang cara mereka melalui rangkaian proses tersebut. Mulai dari metode melahirkan yang baik, latihan pernapasan untuk melahirkan (senam hamil), keluhan seputar hamil melahirkan dan mengasuh si baby, tentang vaksin si kecil, dan lainnya.

Ketiga, menyiapkan perlengkapan si kecil. Saya memulainya bahkan sejak hamil muda dulu. Menggunakan metode mencicil untuk membeli keperluan si baby ternyata akan membantu banyak kelak, terutama tentang masalah per-uang-an, karena ternyata, keperluan si baby kadang gak murah, haha.. Untuk diawal ini pun, yang saya siapkan tidak begitu banyak, ini berdasarkan masukan dari berbagai sumber, karena bayi akan cepat tumbuh besarnya. Diantaranya, baju dalam hanya 5 set, pakaian harian lengan panjang/pendek totalnya 10 set, popok kain 15-20 lembar, gurita (jika pakai) 15 lembar, sarung tangan 5, sarung kaki 5, comforter 2, kain serbaguna (bisa untuk bedong bayi juga) 15 lembar, tas bayi, sepaket alat mandi (sabun, shampo, bak air, handuk, perlak), gendongan bayi, keranjang tidur bayi, baby car seat, stroller (-jika perlu-), keperluan harian semacam diapers, kain kassa, cottonbud, alkhohol, baby oil, dan cologn. Perlengkapan diatas bisa ready saat ini, beberapa diantaranya adalah pemberian dari si nenek, kerabat dan teman-teman, alhamdulillah.

Keempat, menyiapkan perlengkapan si calon new mom. Yaa.. untuk kita. Kalau difikir awalnya memang tidak banyak, tapi setelah dicicil membelinya, ternyata bisa jadi banyak juga. Mulai dari baju-baju baru yang support menyusui, bra support bumil dan busui, lotion anti strechmark atau minyak zaitun, vitamin kehamilan, susu ibu hamil, breast pad dan brest pump (jika perlu), stagen untuk setelah melahirkan, vitamin/ masakan khusus/ jamu untuk memperlancar asi kelak. Kalau saat hamil berat badan jadi bertambah banyak, maka keperluan lainnya pun bertambah, misal harus membeli baju, underwear, sepatu sendal baru karena yang lama hampir tidak muat😀

Kelima, penting merefresh kembali tentang pengetahuan berbagai macam fiqh. Misal tentang nifas dan puasa untuk ibu menyusui, juga tentang bagaimana penyelenggaraan acara aqiqah.

Keenam, mencari pilihan nama-nama yang baik untuk si baby. Karena Islam mengajarkan untuk memberi nama muslim yang baik untuk anak-anak kelak. Untuk beberapa waktu, suami dan saya khususnya terlalu bingung untuk menamai si baby kami, haha.

Ketujuh, menyiapkan ruhaniyah, the most important. Ada satu momen yang kadang akan membuatmu grogi, tentang kemampuan diri sendiri. Maka mintalah pada pada pemilik hati, lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah, berdoa, memohon ampun, dan meminta pertolonganNya, agar bisa amanah menjalankan semua momen ini.

Sementara yang masih segar diingat ini dulu, tentang beberapa poin persiapan saya. Selamat menyiapkan hari baru Mom🙂

Just Put Something in The Right Place

Letakan Sesuatu Pada Tempatnya

Letakan pakaian bersih di lemari. Pakaian kotor di tempat cucian. Makanan di atas meja. Tas dan dompet di dalam raknya. Kursi untuk tempat duduk, dan bantal untuk sandaran atau untuk tidur.

Letakan sesuatu pada tempatnya. Letakan sayang pada tingkatannya. Letakan cinta pada porsinya. Letakan materi diluar hati. Letakan iman di dalam hati dan akal. Dunia sebagai saranamu, akhirat sebagai tujuanmu.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 128 pengikut lainnya